
Kota Gorontalo — Upaya memperkuat kesiapsiagaan bencana sejak usia dini terus dilakukan melalui kolaborasi perguruan tinggi, masyarakat, dan unsur penanggulangan bencana. Salah satu mahasiswa yang turut mengambil peran dalam upaya tersebut adalah Amanda Nuraini P. Zakaria, mahasiswa Jurusan Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Gorontalo (UNG), melalui keterlibatannya dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) HUYULA.
Program yang dilaksanakan bersama anak-anak Rumah Pintar di Kelurahan Tanjung Kramat, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, mengusung tema “Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Anak Pesisir Tanjung Kramat melalui Pendekatan Huyula Berbasis Edukasi Interaktif dengan Pemanfaatan Alih Guna Sampah Plastik Pantai.”
Keterlibatan Amanda menjadi bagian penting dalam menghadirkan perspektif ilmu lingkungan ke dalam program yang memadukan edukasi kebencanaan, pemberdayaan masyarakat, dan kearifan lokal Gorontalo. Pendekatan tersebut relevan dengan kondisi Tanjung Kramat sebagai kawasan pesisir yang menghadapi potensi berbagai ancaman bencana sekaligus persoalan lingkungan, khususnya sampah plastik.
Bagi Amanda, keterlibatan dalam program HUYULA menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan lingkungan secara langsung di tengah masyarakat. Persoalan lingkungan pesisir tidak hanya ditempatkan sebagai isu kebersihan, tetapi juga dikaitkan dengan upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap risiko dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Program HUYULA dikembangkan dengan mengangkat nilai kearifan lokal Huyula yang merepresentasikan semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat Gorontalo. Implementasinya diterjemahkan melalui tiga pendekatan, yakni Ambu, Ti’ayo, dan Hileiya, yang kemudian dikemas dalam rangkaian pembelajaran interaktif bagi anak-anak pesisir.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Amanda bersama anggota tim lainnya terlibat dalam berbagai aktivitas edukatif yang menghubungkan kepedulian lingkungan dengan kesiapsiagaan bencana. Salah satunya terlihat pada kegiatan Ambu Pesisir Bersih, yang memberikan pemahaman mengenai dampak sampah plastik terhadap ekosistem pesisir dan kerentanan bencana, kemudian dilanjutkan dengan aksi gotong royong membersihkan pantai serta pengumpulan dan pemilahan sampah.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan bagaimana perspektif lingkungan dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan kebencanaan. Anak-anak tidak hanya diajak memahami ancaman bencana, tetapi juga diperkenalkan pada pentingnya menjaga kondisi lingkungan tempat mereka tinggal.
Peran lingkungan kemudian berlanjut dalam kegiatan Ti Ayo Tas Emergensi, ketika peserta belajar mengenai fungsi dan kebutuhan dalam Tas Siaga Bencana sekaligus membuat tas darurat dengan memanfaatkan bahan daur ulang.
Pendekatan serupa juga diterapkan dalam pembuatan Board Game Kebencanaan dan Maket 3D kawasan rawan longsor. Media pembelajaran tersebut dikembangkan dengan memanfaatkan material daur ulang sehingga proses edukasi kebencanaan sekaligus menjadi sarana menanamkan kesadaran mengenai pemanfaatan kembali limbah. Pada kegiatan maket 3D, peserta mempelajari faktor penyebab dan dampak tanah longsor sekaligus membangun visualisasi kawasan rawan menggunakan material daur ulang.Rangkaian HUYULA tidak berhenti pada pemberian materi. Anak-anak juga mendapatkan pengalaman belajar melalui permainan, pemetaan jalur evakuasi, simulasi digital menggunakan Minecraft, pelatihan pertolongan pertama, komunikasi darurat, hingga simulasi evakuasi. Pada tahap simulasi digital, peserta dilatih menganalisis wilayah rawan bencana dan mempraktikkan prosedur evakuasi dalam lingkungan virtual.
Puncak kegiatan ditandai dengan Simulasi Siaga, yang menjadi tahap pengujian keterampilan peserta melalui skenario tanggap darurat. Seluruh media yang telah dibuat sebelumnya, termasuk Tas Emergensi, Board Game Bencana, dan Maket 3D, diintegrasikan dalam simulasi untuk menguji kesiapsiagaan dan kemampuan peserta dalam menerapkan prosedur mitigasi bencana secara nyata.
Keterlibatan Amanda sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Lingkungan memperlihatkan bahwa pendidikan kebencanaan dapat dibangun melalui pendekatan yang lebih luas. Lingkungan, menurut pendekatan program ini, bukan hanya menjadi ruang tempat bencana terjadi, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun ketangguhan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak pesisir diperkenalkan pada hubungan antara kondisi lingkungan, risiko bencana, dan tindakan mitigasi yang dapat dilakukan sejak tingkat individu maupun komunitas. Edukasi dilakukan dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga materi kebencanaan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diarahkan menjadi keterampilan yang dapat dipraktikkan.
Selain keterampilan teknis, HUYULA juga mendorong keberlanjutan program melalui Siaga Spotlight. Tahap ini menjadi ruang evaluasi akhir sekaligus pengukuhan Duta Siaga Bencana dari kalangan anak-anak Rumah Pintar. Para duta diharapkan dapat menjadi agen edukasi sebaya yang meneruskan pengetahuan kesiapsiagaan kepada anak-anak lainnya.
Bagi Amanda, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar ruang akademik. Keterlibatan langsung bersama masyarakat memberikan kesempatan untuk melihat bahwa persoalan lingkungan dan kebencanaan memiliki keterkaitan yang erat, khususnya di wilayah pesisir.
Program HUYULA sendiri merupakan kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan mahasiswa dari bidang kesehatan dan lingkungan. Tim diketuai Nurul Fauziah Sabir dan beranggotakan Siti Muthia Sulaeman, Muh Hafizh Afriyad Lamusu, Rayhan Ramadhan Ali, serta Amanda Nuraini P. Zakaria dari Jurusan Ilmu Lingkungan, dengan bimbingan dr. Abdi Dzul Ikram Hasanuddin, S.Ked., M.Biomed.
Kehadiran Amanda dalam tim tersebut sekaligus membawa pesan bahwa mahasiswa ilmu lingkungan memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi dalam pengabdian masyarakat. Tidak hanya melalui kegiatan konservasi dan pengelolaan lingkungan, tetapi juga melalui edukasi kebencanaan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ketangguhan komunitas.
Melalui HUYULA, kolaborasi antara mahasiswa UNG, Rumah Pintar Tanjung Kramat, dan unsur penanggulangan bencana diharapkan dapat menumbuhkan budaya sadar bencana sekaligus kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini. Bagi Amanda Nuraini P. Zakaria, keterlibatan ini menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa Jurusan Ilmu Lingkungan dalam menghadirkan solusi yang menghubungkan lingkungan, masyarakat, dan kesiapsiagaan bencana.
Dalam rangka merespon tantangan dan prospek akademisi untuk kolaborasi dengan berbagai pihak guna memberikan kontribusi dalam pemecahan masalah lingkungan global dan penyiapan SDM di bidang lingkungan, maka Perkumpulan Program Studi Ilmu Lingkungan (PEPSILI) akan menyelenggarakan International Conference dengan tema "Harmonization of Various Impact Assessment Tools for Nature" dan Rapat Kerja Nasional XI dengan tema "Sinergi Kualitas Akademik Rumpun Program Studi Ilmu Lingkungan Berbasis Lembaga Agreditasi Mandiri" yang akan diselenggarakan pada 21-23 Agustus 2024 di Universitas Udayana Bali dan akan di hadiri oleh beberapa Dosen Ilmu Lingkungan, FMIPA UNG.
Semarak Kemerdekaan: Jurusan Ilmu Lingkungan FMIPA, UNG akan melaksanakan Pengabdian Masyarakat di Kabupaten Boalemo pada tanggal 18-19 Agustus 2024.
PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) tingkat Jurusan adalah program orientasi yang diselenggarakan oleh masing-masing jurusan di sebuah Universitas untuk mahasiswa baru. Kegiatan PKKMB ini diawali dari tingkat Universitas tanggal 12-14, kemudian dilanjutkan ke tingkat Fakultas tanggal 15 dan terakhir tingkat Jurusan tanggal 16.